13/07/2017

Cara Menemukan Keseimbangan Hidup yang Tepat

Pada jaman dimana komunikasi dengan mudah dilakukan di setiap saat dan kapan pun, kesibukan dalam kehidupan pribadi dan pekerjaan akan bercampur tidak seimbang dan berpengaruh pada kinerja karyawan di kantor. Lalu, apa yang dapat dilakukan perusahaan untuk memperbaikinya? Bruno Vanhaelst, Senior Vice President Marketing, Strategy and Sales Development of Sodexo Benefits and Rewards Services and Sodexo Personal and Home Services melihat tantangan dan solusi untuk permasalahan ini.


Mengapa penting bagi perusahan untuk fokus pada keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan karyawannya?
Bruno Vanhaelst: Jawaban terbagi dalam dua poin. Poin pertama, ini adalah prioritas utama bagi orang-orang yang bekerja. Tidaklah mudah untuk menemukan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan pada jaman sekarang, di mana semua orang dapat terhubung tanpa batas menjadikan garis yang memisahkan waktu kerja dengan waktu pribadi menjadi semakin kabur.

Tidaklah mengherankan fleksibilitas kemudian menjadi elemen penting yang dicari para pekerja. Berdasarkan hasil studi, sebagian Direktur HR mengatakan bahwa mereka menawarkan pilihan jam kerja yang lebih fleksibel untuk menarik dan merekrut karyawan baru1. Sementara, manajer Amerika pada umumnya meyakini bahwa fleksibilitas membawa dampak positif pada employee engagement (60%), motivasi (57%), dan kepuasan dalam bekerja (68%)2. Survei yang dilakukan oleh Sodexo3 juga menunjukkan bahwa 90% karyawan ingin menghabiskan lebih banyak waktu di luar kantor dan hasil penelitian4 lainnya memperlihatkan meningkatkan keseimbangan antara kehidupan dengan pekerjaan merupakan prioritas kedua bagi karyawan. memperbaiki keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaannya.

Poin kedua, karyawan yang kesulitan menyeimbangkan kehidupan dan pekerjaan mereka akan cenderung tidak produktif dan tidak engage dalam bekerja.

Isu-isu apa saja dibalik ketidakseimbangan antara kehidupan dengan pekerjaan?
BV: Ada banyak jenis kejadian dan situasi yang dapat mempengaruhi, contohnya adalah: pemanas air panas yang rusak di rumah, anak tidak bisa pergi ke sekolah karena sakit, atau ada masalah kesehatan orang tua yang telah lanjut usia – ini adalah masalah umum pada “sandwich generation”, yaitu generasi yang merawat anak dan orang tuanya pada saat bersamaan, sekaligus juga bekerja di kantor.

Sementara itu, beberapa keluarga adalah orang tua tunggal, atau pasangan yang sudah bercerai dan harus berjuang menjadi ayah atau ibu tunggal bagi anak-anak mereka. Di saat yang bersamaan mereka juga harus berhadapan dengan tekanan dari pekerjaan. Bagi sebagian besar karyawan, beban kerja yang meningkat pada saat jam kerja tetap berlanjut sampai dengan malam hari hingga akhir pekan – terutama karena email yang terkait pekerjaan muncul di smartphone karyawan.

Dalam ekonomi global, pemotongan biaya seringkali terjadi dalam agenda perusahaan, dan karyawan menemukan diri mereka di bawah tekanan, dengan sumber daya yang kurang serta jam kerja yang berlebihan. Semua ini menimbulkan stres, yang berdampak risiko kelelahan dan depresi. Di Inggris, stres yang berkaitan dengan pekerjaan diperkirakan menghabiskan biaya 10,4 juta hari kerja dalam setahun5. Hasil studi yang sama juga menemukan bahwa 27% karyawan merasa tertekan, 34% merasa cemas, dan 58% merasa mudah tersinggung saat bekerja lebih lama dari jam kerja yang telah ditentukan. Kondisi seperti ini sangat mempengaruhi performa dan retensi karyawan.