30/07/2018

Fakta Tentang Generasi Millenials Di Tempat Kerja

Millennials atau kadang juga disebut dengan Generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, sekitar tahun 1980 - 2000an, dengan rentang usia 17 – 37 tahun. Millennials sendiri dianggap spesial karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi.

Generasi Millenials telah mengubah suasana di tempat kerja selama satu tahun terakhir atau lebih. Mereka hadir dengan sikap yang baru dan karakteristik yang mencolok, serta mengilhami kegembiraan dan kebencian dari generasi-generasi sebelumnya. Tetapi generasi ini sedang mengalami perubahan dramatis. Millenials bukan lagi generasi termuda di tempat kerja dan mereka telah siap menjadi profesional yang lebih tua dan lebih tinggi.

Pertanyaan besar di benak kita adalah bagaimana generasi Millennials ini akan berubah ketika mereka sudah mendapatkan lebih banyak pengalaman? Apakah mereka akan mempertahankan nilai dan karakteristik yang telah membentuk mereka? atau akankah mereka berubah menjadi sesuatu yang lain sepenuhnya?


Sebuah riset dari Dale Carnegie Indonesia menyebutkan bahwa, hanya 25% tenaga kerja Millennials yang terlibat sepenuhnya dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Padahal, peran Millennials sebagai angkatan kerja utama di sebuah perusahaan justru semakin besar. Hal ini seiring dengan proses pensiunnya generasi Baby Boomers dan kenaikan jabatan dari Generasi X.

Berdasarkan data BPS di tahun 2016, dari total jumlah angkatan kerja di Indonesia yang mencapai 160 juta, hampir 40% di antaranya adalah Millennials – sebesar 62,5 juta. Terbanyak kedua setelah Generasi X yang mencapai 69 juta, dan jauh di atas jumlah generasi Baby Boomers yang hanya tersisa 28,7 juta.

Dalam survei “Employee Engagement Among Millennials” yang menyertakan 1.200 narasumber, Dale Carnegie ingin mengetahui tingkat keterlibatan karyawan/employee engagement di Tanah Air. Employee engagement merupakan komitmen karyawan, baik emosional maupun intelektual, untuk memberikan performa terbaiknya kepada perusahaan.

“Studi kami bahkan menunjukkan, 9% karyawan Millenials menolak terlibat/disengaged dengan perusahaan. Lebih besar lagi, yakni 66%, tenaga kerja Millenials cuma terlibat sebagian/partially-engaged. Tentunya mengkhawatirkan, sebab golongan ini bisa berpindah ke disengaged jika perusahaan tidak lekas mengambil langkah antisipasi,” ujar Joshua Siregar selaku Director National Marketing Dale Carnegie Indonesia.

Fakta mencengangkan lainnya adalah hanya satu di antara empat Millennials yang engaged, dan 64% terlibat sepenuhnya pasti akan bertahan setidaknya setahun ke depan. Sebaliknya, 60% Millennials berencana mengundurkan diri apabila merasa disengaged dengan perusahaan yang sekarang mereka tempati. Karyawan yang engaged cenderung loyal dan bersedia bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Tidak hanya bertahan, tetapi juga berkontribusi pada keuntungan perusahaan, dan bekerja secara produktif dan berkualitas.

Sementara, mereka yang partially-engaged lebih fokus pada pengerjaan tugas, alias yang penting selesai. Selain itu, mereka ini hanya berorientasi pada gaji saja, atau “gw kerjain, gw digaji, gw pulang”. Kategori disengaged lebih berbahaya lagi karena menyebarkan pengaruh negatif, menampakkan ketidakpercayaan dan permusuhan, sudi menyabotase pekerjaan bahkan kemajuan perusahaan.

Kesiapan perusahaan untuk menyambut tenaga Millennials sangat krusial untuk menentukan keberlangsungan usaha. Pembentukan budaya baru yang membuat para milenial ‘feel at home’ sehingga mau terlibat menjadi keharusan. Tenaga kerja millennials memiliki harapan bagi tempat kerja mereka. Mereka berharap bisa mendapatkan perasaan terjamin dari perusahaan, perusahaan mengapresiasi karyawan, perusahaan menawarkan gaji yang kompetitif, mendapatkan keseimbangan waktu bekerja dan kehidupan pribadi, supervisor berkomunikasi secara terbuka dan jujur.